Membuat jejak kaki di tanah Kangaroo
Hari ini perjalan jauh dimulai. Berangkat
dari rumah sekitar pukul 10:25 wib dengan dilepas oleh senyum bahagia keluarga
serta teman-teman tercinta yang telah rela meluangkan waktunya demi mengantar
ke Bandar udara. Perjalan menggunakan pesawat terbang merupakan hal yang biasa
saya lakukan (ga biasa-biasa amat sih). Ditambah pada tahun ini entah sudah
berapa kali saya bolak-balik naik salah satu jenis transportasi ini. Namun hal
yang paling berbeda hanya satu,yakni bepergian sendiri. Biasanya bersama
rombongan teman-teman yang melakukan kegiatan yang bersama-sama. Namun kali
saya harus bertarung sendiri (jiah bahasanya) untuk bisa mencapai daerah tujuan
yakni Bali sendirian. Tapi ternyata hal itu tidaklah benar, sebab ada beberapa
teman dari daerah lain yang juga berangkat pada waktu yang sama. Rizka,
namanya, merupakan mahasiswa UIN Riau yang juga berangkat ke Bali pada waktu
yang bersamaan. Saya berangkat dari Bengkulu ke Bali dalam rangka mengikuti Pre-departure
training dari kegiatan beasiswa summer short course yang merupakan program
gagasan dari Kementrian Agama RI. Student Mobility Program namanya. Di sini,
kita flash back sedikit, mahasiswa yang memiliki kemampuan berbaha
Inggris yang baik diajak untuk bergabung untuk mengikuti kursus singkat di
Australia. Setelah melalui beberapa proses akhirnya terpilihlah 27 mahasiswa
yang bakal mengikuti kegiatan ini terhitung sejak tanggal 15 Desember-23
Desember 2015. Hampir 4000 mahasiswa yang bertarung memperbutkan kursi ini dan
Alhamdulillah, atas izin Allah Azza Wajalla, saya bisa menjadi daripada bagian
ini.
Jujur
saya senang sungguh luar biasa. Hal ini karena saya bisa mewujudkn cita-cita
saya untuk bisa menjadi representasi daerah asal dalam mempromosikan kekayaan
alam yang ada di Bengkulu ke kanca yang lebih masif lagi yakni dunia.
Hampir ngemper di bali?
Iya.
Jadi pada saat kami memutuskan berangkat satu hari lebih awal sebelum acaranya,
membuat kami harus mandiri dalam mencari penginapan. Sebab penginapan
disediakan panitia hanya untuk hari H saja. Sisahnya ditanggung maisng-masing
peserta. Tiba di Bali saya dan ketiga teman lain yakni, Aceh (Rahmah), Riau
(Rizka) dan Palembang (Fikri). Kami memiliki kesamaan saat pertama kali ketemu
di bandara, yakni sama-sama pertama kali ke Bali. Jadi kami buta mau kemana.
Bahkan buat makan malam saja, kami mengalami kebingungan harus makan di mana. But
finally we got the home stay. Kita memutuskan untuk menginap di penginapan
yang terjangkau dan bisa menyelamatkan kami satu malam saja dari dinginnya
angin Pulau Dewata di malam hari. Dapatlah sebuah penginapan sejenis pondokan
yang memiliki harga sewa 250K permalam. No more choices ditambah sudah
letih karena perjalanan panjang akhirnya kami putuskan menginap di tempat itu.
Nginap di Hotel bintang empat!!?!!
Tidak pernah bermimpi bisa tidur di
hotel mewah dengan pelayanan yang mewah juga. Berasa raja satu malam. Akhirnya
setelah menunggu waktunya juga tiba. Kami tiba di salah satu hotel terbaik di
daerah Kuta, Bali. Di sini kami hanya punya waktu 2 hari satu malam sebelum
keberangkatan ke Australia tanggal 16 Desember. Di hotel ini juga kami dapat pre
departure training dari para panitia serta staff Kementerian Agama yang
merupakan penyelenggara program Student Mobility ini.
Pada
pukul 22:00 waktu Australia, kami semua rombongan tiba di Bandara Internasionl
Perth, Australia. Ada seorang teman yang duduk tepat di belakang bangku saya,
teriak tidak terlalu histeris dengan selalu menyebut nama Allah dalam bingkai
syukur. Ini merupakan rahmat Tuhan yang paling memberikan kesan indah bagi kami
untuk menutup tahun 2015 dengan menjadi bagian dari program Student
Mobility.
Di pesawat ngapain ?
Melewatkan cerita yang terjadi di pesawat
merupakan hal yang memberikan kesan kurang dalam setiap perjalanan. Jadi, dari
Bali menuju Perth, maskapai yang kami gunakan adalah Garuda Indonesia. Ini
merupakan maskapai impian saya yang ingin sekali saya naiki ketika bepergian
menggunakan pesawat terbang. Terbelalak! Hahaha, saya seperti orang kampong
yang baru pertama kali naik pesawat mewah. Pesawatnya terdiri dari 3 baris di
mana komposisinya dua baris di jendela sebelah kanan, 4 baris di tengah dan 2
baris kursi di jendela sebelah kiri. Saya secara keingininan, minta sama petugasnya
buat, bisa duduk di dekat jendela pesawat. Ketika duduk, semua anggota tubuh ga
bisa berhenti bergerak terutama tangan. Semua hal yang ada di sana mulai dari
tombol-tombol saya coba pencet semua. Karena maskapai ini dilengkapi oleh
televisi jadi ini bisa membantu kita membunuh kebosanan sepanjang perjalanan,
bisa berupa mendengarkan musik, menonton film-film box office. Karena
perjalanan kita cukup jauh yakni memakan waktu selama 3 jam (Bali-Perth).
Sedikit
cerita lucu, ketika sedang duduk sambil memutar film yang belum pernah saya
tonton, datanglah seorang pramugari yang memberikan daftar makanan dan minuman
pada saya. Dia meminta saya memilih makanan mana yang mau dimakan serta minuman
yang mungkin ingin saya minum. Saya tidak melakukan apa-apa kecuali mengucapkan
“terima kasih”. Ketika pramugarinya datang dengan membawa kereta dorong yang
berisi makanan dan minuman, saya melihat teman saya di belakang ditanya oleh
pramugarinya, “mau makan apa mas?” berkali-kali, namun teman saya tidak
menjawab, akhirnya dengan berani teman saya balik tanya “ini gratis kan
mbak, ya?”. “oh iya ini gratis” kata mbak pramugarinya. Akhirnya
ketika melihat kejadian yang cukup singkat itu terjadi, saya langsung membuka
menu makanan yang diberikan oleh pramugari di awal tadi dan memesan Rendang
pedas. Karena sedikit jaim buat nanya. Akhirnya saya hanya bilang “daging
rendang satu sama minum air putih aja” dengan pedenya. Tapi akhirnya
di sesi lain jiwa jaim ini saya runtuhkan seruntuh-runtuhnya ketika kita
diberi sejenis dompet kecil yang memiliki isi masker penutup mata, kaos kaki,
dan alat penutup hidung. Karena takut dikenai biaya, saya tidak apa-apain itu
dompet. Sampai akhirnya kebingungan muncul, akhirnya saya beranikan bertanya “mas...mas...
ini gratiskan ya? Boleh bawa pulang?”. “Boleh pak dibawa pulang”
kata si pramugaranya. Kebetulan pesawat itu ada pramugari dna
pramugaranya. Tanpa pikir panjang, saya
buka plastic pembungkus dompet kecil itu lalu keluarkan semua isinya, dan
dicoba satu persatu. Karena sudah berniat untuk tidak tidur, biar ga kelewatan ngeliat
kota Perth dari udara di malam hari, saya putuskan untu tetap terjaga sembil
menonton film. Setelah berganti-ganti film, akhirnya kita tiba juga di kota
Perth, Australia.
Dengan
membawa tas jinjing dan dompet kecil pemberian garuda, saya dengan pedenya
melangkah ke dalam bandara melalui pintu yang telah disediakan. Masih dalam
keadaan tidak percaya saya bisa berkunjung ke tempat Penutur Bahasa Inggris
asli. Saya pernah ke luar negeri sebelumnya, tapi baru kali ini ke Negara yang
penduduknya menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama. Senang,
gembira, bahagia, dan semua perasaan ini sebenarnya membuat saya ingin melompat
kegirangan, tapi eitss tahan. Jangan kampungan donkkkk. J
Saya
tiba di bagian imigrasi, saya yang biasanya deg-degan namun kali ini
tidak. Dengan wajah tersenyum saya melangkah ke depan petugas imigrasi dan
menjawab pertanyaan dengan santai, senang, bahkan pingin loncat-loncat juga.
Hahahha, kampungan.
Welcome
to Perth adalah kalimat pertama yang saya dapatkan di depan pintu imigrasi.
Foto-foto adalah agenda wajib yang ga boleh dilewatkan anak-anak alay macam
saya ini.
Karena
merasa di dalam bandara terlalu dingin, saya sangat menanti-nanti ingin keluar dari bandara buat mencari udara
segar dan hangat. Dari berita yang kami dapat sebelum keberangktan, Perth
sedang dalam kondisi musim panas. Tapi jauh panggang dari api, saya ingin
kembali ke dalam bandara buat menghangatkan diri. Di luar ternyata dingin
sekali. Waw emejing.
Pake AC aja kita masuk angin apalagi suhunya ekstrim gitu.
Bawa brush cuci pakaian tapi ga ke pake.
Tengah
malam waktu setempat akhirnya kami tiba di penginapan, St. George College. Di
sini penginapanya kayak hotel bintang empat. Padahal ini sejenis mess tapi
mewah banget. Ada televisi, AC, bahkan setrika dan mesin cuci pun ada. Nah dari
Indonesia, saya sudah siapkan brush cuci pakaian karena saya bawa pakaian
sedikit jadi harus sering-sering nyuci pakaian. Ternyata benda ajaib itu ga ke
pake setelah ngeliat mesin cuci. Akhirnya saya tidak perlu repot-repot brush
pakaian, tinggal masukan, tekan, cuci deh.
Yakin segampang itu?
Huft,,, niat nyuci jam 4 sore, tapi
kelarnya jam 7 pagi. Kok bisa? Iya, jiwa kampungannya muncul lagi. Saya tidak
bisa mengoperasian mesin cuci itu. Beda sama yang di rumah. Ahirnya dengan
bantuan teman-teman satu kamar, kitaaa tidak juga berhasil menggunakannya.
Pakaian kami terkurung dalam mesin cuci itu. We had no idea why it was unable
to open. Keesokan harinya saya bangun pagi dan langsung menemui ntu
mesin cuci. Setelah tekan sana pencet sini akhirnya tu mesin mutar juga.
Singkatnya, setelah selesai dibilas, ternyata itu mesin seacra otomatis ngeringin
pakaian sendiri. Tapi karena saya tidak yakin bahwa mesin itu sudah
mengeringkan baju saya, akhirnya saya keluarkan pakaian-pakaian itu dan saya
masukan ke dalam mesin yang ada di atas mesin satunya. Kenapa? Karena saya kira
itu mesin pengering. Dan akhirnya saya putar mesin itu, taraaaa... setelah
dikeluaran ternyata pakaian saya semakin basah. Akibat sudah terlalu muak
dipermainkan oleh mesin, saya memutuskan untuk memeras air cuciannya dengan
cara manual, dengan tangan sendiri, dan kemudian langsung menjermurnya.
Phiuf... klar..klar...klar. setelah kering, pakaian tersebut saya kemudian
setrika dan tersimpan rapi kembali di dalam koper.
Kue bay tat sampai di tanah Kangaroo.
Selama
dua hari di sini banyak hal yang telah saya lakukan. Namun yang paling berkesan
adalah ketika saya presentasi materi saya mengenai kebudayaan local Bengkulu di
depan para delegasi lain dari berbagai provinsi di Indonesia dan juga
disaksikan oleh dosen-serta professor dari University of Western Australia. Saya
senang dan bangga sangat saya rasakan ketika saya melihat antusias para audiens
terhadap materi yang saya sampaikan. Materi tersebut mengenai perayaan festival
tabot yang merupakan perpaduan dari budaya Islam dan budaya local yang menjadi
acara besar tahunan Provinsi Bengkulu setiap awal bulan muharram. Saya sangat
berharap semoga dengan penyampaian materi ini bisa membuka ruang yang lebih
luas bagi turis baik domestic maupun lokal tertarik untuk datang dan berkunjung
ke daerah saya. Malam harinya kami dinner / makan malam bersama. Dan di
sini saya tidak mau kehilangan moment. Karena konsep makan malamnya bertemakan
Indonesia, akhirnya saya tawarkan kepada pengurus acara untuk menampilkan
makanan khas Bengkulu, bay tat, menjadi salah satu makanan penutup dan
hasilnya kue yang hanya sepotang kecil saya bawa habis dilahap. Alhamdulillah
serta rasa syukur lebih saya selalu ucapkan atas berkat, rahmat, serta hidayat
Allah saya bisa melakukan semua ini.
Pengalaman
berharga yang bisa saya rasakan satu kali seumur hidup ini telah benar-benar
memberikan saya pelajaran yang mengajarkan betapa benara anjuran Nabi untuk
menuntut ilmu hingga ke negeri orang. Bertemu orang-orang yang memiliki
pengalaman hidup yang luar biasa menjadi kaca refleksi diri saya bahwasannya
saya ini hanyalah butiran r***so (deterjen) yang tidak ada apa-apanya. Terima kasih
banyak saya ucapkan kepada mereka yang telah membantu saya dalam meraih
beberapa mimpi saya. Terkhusus buat keluarga tercinta yang terus mengalirkan
doa dan dukungan tanpa henti buat anak nakal ini. Saya berharapa semoga ke
depan aka nada beberapa “alan-alan” lain yang bisa merasakan nikmat hidup penuh
pengalaman bermanfaat ini. Tetap bermimpi kawan. Salam hangat.



Haha seru ceritanya kakak
BalasHapus(Y)
Ya kK semoga akan ada alan2 brikutnya.
BalasHapusYa kK semoga akan ada alan2 brikutnya.
BalasHapus