Sabtu, 23 April 2016

Membuat jejak kaki di tanah Kangaroo
            Hari ini perjalan jauh dimulai. Berangkat dari rumah sekitar pukul 10:25 wib dengan dilepas oleh senyum bahagia keluarga serta teman-teman tercinta yang telah rela meluangkan waktunya demi mengantar ke Bandar udara. Perjalan menggunakan pesawat terbang merupakan hal yang biasa saya lakukan (ga biasa-biasa amat sih). Ditambah pada tahun ini entah sudah berapa kali saya bolak-balik naik salah satu jenis transportasi ini. Namun hal yang paling berbeda hanya satu,yakni bepergian sendiri. Biasanya bersama rombongan teman-teman yang melakukan kegiatan yang bersama-sama. Namun kali saya harus bertarung sendiri (jiah bahasanya) untuk bisa mencapai daerah tujuan yakni Bali sendirian. Tapi ternyata hal itu tidaklah benar, sebab ada beberapa teman dari daerah lain yang juga berangkat pada waktu yang sama. Rizka, namanya, merupakan mahasiswa UIN Riau yang juga berangkat ke Bali pada waktu yang bersamaan. Saya berangkat dari Bengkulu ke Bali dalam rangka mengikuti Pre-departure training dari kegiatan beasiswa summer short course yang merupakan program gagasan dari Kementrian Agama RI. Student Mobility Program namanya. Di sini, kita flash back sedikit, mahasiswa yang memiliki kemampuan berbaha Inggris yang baik diajak untuk bergabung untuk mengikuti kursus singkat di Australia. Setelah melalui beberapa proses akhirnya terpilihlah 27 mahasiswa yang bakal mengikuti kegiatan ini terhitung sejak tanggal 15 Desember-23 Desember 2015. Hampir 4000 mahasiswa yang bertarung memperbutkan kursi ini dan Alhamdulillah, atas izin Allah Azza Wajalla, saya bisa menjadi daripada bagian ini.
            Jujur saya senang sungguh luar biasa. Hal ini karena saya bisa mewujudkn cita-cita saya untuk bisa menjadi representasi daerah asal dalam mempromosikan kekayaan alam yang ada di Bengkulu ke kanca yang lebih masif lagi yakni dunia.
Hampir ngemper di bali?
            Iya. Jadi pada saat kami memutuskan berangkat satu hari lebih awal sebelum acaranya, membuat kami harus mandiri dalam mencari penginapan. Sebab penginapan disediakan panitia hanya untuk hari H saja. Sisahnya ditanggung maisng-masing peserta. Tiba di Bali saya dan ketiga teman lain yakni, Aceh (Rahmah), Riau (Rizka) dan Palembang (Fikri). Kami memiliki kesamaan saat pertama kali ketemu di bandara, yakni sama-sama pertama kali ke Bali. Jadi kami buta mau kemana. Bahkan buat makan malam saja, kami mengalami kebingungan harus makan di mana. But finally we got the home stay. Kita memutuskan untuk menginap di penginapan yang terjangkau dan bisa menyelamatkan kami satu malam saja dari dinginnya angin Pulau Dewata di malam hari. Dapatlah sebuah penginapan sejenis pondokan yang memiliki harga sewa 250K permalam. No more choices ditambah sudah letih karena perjalanan panjang akhirnya kami putuskan menginap di tempat itu.
Nginap di Hotel bintang empat!!?!!
            Tidak pernah bermimpi bisa tidur di hotel mewah dengan pelayanan yang mewah juga. Berasa raja satu malam. Akhirnya setelah menunggu waktunya juga tiba. Kami tiba di salah satu hotel terbaik di daerah Kuta, Bali. Di sini kami hanya punya waktu 2 hari satu malam sebelum keberangkatan ke Australia tanggal 16 Desember. Di hotel ini juga kami dapat pre departure training dari para panitia serta staff Kementerian Agama yang merupakan penyelenggara program Student Mobility ini.
            Pada pukul 22:00 waktu Australia, kami semua rombongan tiba di Bandara Internasionl Perth, Australia. Ada seorang teman yang duduk tepat di belakang bangku saya, teriak tidak terlalu histeris dengan selalu menyebut nama Allah dalam bingkai syukur. Ini merupakan rahmat Tuhan yang paling memberikan kesan indah bagi kami untuk menutup tahun 2015 dengan menjadi bagian dari program Student Mobility.
Di pesawat ngapain ?


            Melewatkan cerita yang terjadi di pesawat merupakan hal yang memberikan kesan kurang dalam setiap perjalanan. Jadi, dari Bali menuju Perth, maskapai yang kami gunakan adalah Garuda Indonesia. Ini merupakan maskapai impian saya yang ingin sekali saya naiki ketika bepergian menggunakan pesawat terbang. Terbelalak! Hahaha, saya seperti orang kampong yang baru pertama kali naik pesawat mewah. Pesawatnya terdiri dari 3 baris di mana komposisinya dua baris di jendela sebelah kanan, 4 baris di tengah dan 2 baris kursi di jendela sebelah kiri. Saya secara keingininan, minta sama petugasnya buat, bisa duduk di dekat jendela pesawat. Ketika duduk, semua anggota tubuh ga bisa berhenti bergerak terutama tangan. Semua hal yang ada di sana mulai dari tombol-tombol saya coba pencet semua. Karena maskapai ini dilengkapi oleh televisi jadi ini bisa membantu kita membunuh kebosanan sepanjang perjalanan, bisa berupa mendengarkan musik, menonton film-film box office. Karena perjalanan kita cukup jauh yakni memakan waktu selama 3 jam (Bali-Perth).
            Sedikit cerita lucu, ketika sedang duduk sambil memutar film yang belum pernah saya tonton, datanglah seorang pramugari yang memberikan daftar makanan dan minuman pada saya. Dia meminta saya memilih makanan mana yang mau dimakan serta minuman yang mungkin ingin saya minum. Saya tidak melakukan apa-apa kecuali mengucapkan “terima kasih”. Ketika pramugarinya datang dengan membawa kereta dorong yang berisi makanan dan minuman, saya melihat teman saya di belakang ditanya oleh pramugarinya, “mau makan apa mas?” berkali-kali, namun teman saya tidak menjawab, akhirnya dengan berani teman saya balik tanya “ini gratis kan mbak, ya?”. “oh iya ini gratis” kata mbak pramugarinya. Akhirnya ketika melihat kejadian yang cukup singkat itu terjadi, saya langsung membuka menu makanan yang diberikan oleh pramugari di awal tadi dan memesan Rendang pedas. Karena sedikit jaim buat nanya. Akhirnya saya hanya bilang “daging rendang satu sama minum air putih aja” dengan pedenya. Tapi akhirnya di sesi lain jiwa jaim ini saya runtuhkan seruntuh-runtuhnya ketika kita diberi sejenis dompet kecil yang memiliki isi masker penutup mata, kaos kaki, dan alat penutup hidung. Karena takut dikenai biaya, saya tidak apa-apain itu dompet. Sampai akhirnya kebingungan muncul, akhirnya saya beranikan bertanya “mas...mas... ini gratiskan ya? Boleh bawa pulang?”. “Boleh pak dibawa pulang” kata si pramugaranya. Kebetulan pesawat itu ada pramugari dna pramugaranya.  Tanpa pikir panjang, saya buka plastic pembungkus dompet kecil itu lalu keluarkan semua isinya, dan dicoba satu persatu. Karena sudah berniat untuk tidak tidur, biar ga kelewatan ngeliat kota Perth dari udara di malam hari, saya putuskan untu tetap terjaga sembil menonton film. Setelah berganti-ganti film, akhirnya kita tiba juga di kota Perth, Australia.
            Dengan membawa tas jinjing dan dompet kecil pemberian garuda, saya dengan pedenya melangkah ke dalam bandara melalui pintu yang telah disediakan. Masih dalam keadaan tidak percaya saya bisa berkunjung ke tempat Penutur Bahasa Inggris asli. Saya pernah ke luar negeri sebelumnya, tapi baru kali ini ke Negara yang penduduknya menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama. Senang, gembira, bahagia, dan semua perasaan ini sebenarnya membuat saya ingin melompat kegirangan, tapi eitss tahan. Jangan kampungan donkkkk. J
            Saya tiba di bagian imigrasi, saya yang biasanya deg-degan namun kali ini tidak. Dengan wajah tersenyum saya melangkah ke depan petugas imigrasi dan menjawab pertanyaan dengan santai, senang, bahkan pingin loncat-loncat juga. Hahahha, kampungan.
            Welcome to Perth adalah kalimat pertama yang saya dapatkan di depan pintu imigrasi. Foto-foto adalah agenda wajib yang ga boleh dilewatkan anak-anak alay macam saya ini.
            Karena merasa di dalam bandara terlalu dingin, saya sangat menanti-nanti  ingin keluar dari bandara buat mencari udara segar dan hangat. Dari berita yang kami dapat sebelum keberangktan, Perth sedang dalam kondisi musim panas. Tapi jauh panggang dari api, saya ingin kembali ke dalam bandara buat menghangatkan diri. Di luar ternyata dingin sekali. Waw emejing. Pake AC aja kita masuk angin apalagi suhunya ekstrim gitu.
Bawa brush cuci pakaian tapi ga ke pake.
            Tengah malam waktu setempat akhirnya kami tiba di penginapan, St. George College. Di sini penginapanya kayak hotel bintang empat. Padahal ini sejenis mess tapi mewah banget. Ada televisi, AC, bahkan setrika dan mesin cuci pun ada. Nah dari Indonesia, saya sudah siapkan brush cuci pakaian karena saya bawa pakaian sedikit jadi harus sering-sering nyuci pakaian. Ternyata benda ajaib itu ga ke pake setelah ngeliat mesin cuci. Akhirnya saya tidak perlu repot-repot brush pakaian, tinggal masukan, tekan, cuci deh.
Yakin segampang itu?
            Huft,,, niat nyuci jam 4 sore, tapi kelarnya jam 7 pagi. Kok bisa? Iya, jiwa kampungannya muncul lagi. Saya tidak bisa mengoperasian mesin cuci itu. Beda sama yang di rumah. Ahirnya dengan bantuan teman-teman satu kamar, kitaaa tidak juga berhasil menggunakannya. Pakaian kami terkurung dalam mesin cuci itu. We had no idea why it was unable to open. Keesokan harinya saya bangun pagi dan langsung menemui ntu mesin cuci. Setelah tekan sana pencet sini akhirnya tu mesin mutar juga. Singkatnya, setelah selesai dibilas, ternyata itu mesin seacra otomatis ngeringin pakaian sendiri. Tapi karena saya tidak yakin bahwa mesin itu sudah mengeringkan baju saya, akhirnya saya keluarkan pakaian-pakaian itu dan saya masukan ke dalam mesin yang ada di atas mesin satunya. Kenapa? Karena saya kira itu mesin pengering. Dan akhirnya saya putar mesin itu, taraaaa... setelah dikeluaran ternyata pakaian saya semakin basah. Akibat sudah terlalu muak dipermainkan oleh mesin, saya memutuskan untuk memeras air cuciannya dengan cara manual, dengan tangan sendiri, dan kemudian langsung menjermurnya. Phiuf... klar..klar...klar. setelah kering, pakaian tersebut saya kemudian setrika dan tersimpan rapi kembali di dalam koper.
Kue bay tat sampai di tanah Kangaroo.
            Selama dua hari di sini banyak hal yang telah saya lakukan. Namun yang paling berkesan adalah ketika saya presentasi materi saya mengenai kebudayaan local Bengkulu di depan para delegasi lain dari berbagai provinsi di Indonesia dan juga disaksikan oleh dosen-serta professor dari University of Western Australia. Saya senang dan bangga sangat saya rasakan ketika saya melihat antusias para audiens terhadap materi yang saya sampaikan. Materi tersebut mengenai perayaan festival tabot yang merupakan perpaduan dari budaya Islam dan budaya local yang menjadi acara besar tahunan Provinsi Bengkulu setiap awal bulan muharram. Saya sangat berharap semoga dengan penyampaian materi ini bisa membuka ruang yang lebih luas bagi turis baik domestic maupun lokal tertarik untuk datang dan berkunjung ke daerah saya. Malam harinya kami dinner / makan malam bersama. Dan di sini saya tidak mau kehilangan moment. Karena konsep makan malamnya bertemakan Indonesia, akhirnya saya tawarkan kepada pengurus acara untuk menampilkan makanan khas Bengkulu, bay tat, menjadi salah satu makanan penutup dan hasilnya kue yang hanya sepotang kecil saya bawa habis dilahap. Alhamdulillah serta rasa syukur lebih saya selalu ucapkan atas berkat, rahmat, serta hidayat Allah saya bisa melakukan semua ini.
            Pengalaman berharga yang bisa saya rasakan satu kali seumur hidup ini telah benar-benar memberikan saya pelajaran yang mengajarkan betapa benara anjuran Nabi untuk menuntut ilmu hingga ke negeri orang. Bertemu orang-orang yang memiliki pengalaman hidup yang luar biasa menjadi kaca refleksi diri saya bahwasannya saya ini hanyalah butiran r***so (deterjen) yang tidak ada apa-apanya. Terima kasih banyak saya ucapkan kepada mereka yang telah membantu saya dalam meraih beberapa mimpi saya. Terkhusus buat keluarga tercinta yang terus mengalirkan doa dan dukungan tanpa henti buat anak nakal ini. Saya berharapa semoga ke depan aka nada beberapa “alan-alan” lain yang bisa merasakan nikmat hidup penuh pengalaman bermanfaat ini. Tetap bermimpi kawan. Salam hangat.















3 komentar: