
Sawaddee khrup, Welcome to Thailand
Cerita ini berawal
dari keinginan saya yang sangat ingin pergi ke luar negeri. Sewaktu kecil saya
pernah berujar pada Tuhan, ‘’Ya Allah bawalah hambaMu ini melihat negeri lain
walau hanya menginjakkan kaki dalam masa singkat’’. Karena bagi saya walaupun
hanya menyentuh tanah Negara orang itu mengandung arti bahwa saya sudah pernah
ke luar negeri. Ucap syukur tak pernah lepas saya panjatkan kepada Allah SWT,
karena telah mewujudkan impian konyol saya masa kecil yakni ‘’Ingin ke luar
negeri’’.
Thailand
merupakan Negara kedua yang saya tapak selama beberapa waktu terakhir. 2014
lalu Allah telah membawa saya ke negeri tetangga Malaysia. Itu hanya saya
habiskan selama beberapa hari saja karena harus menghadiri konferensi
internasional dan mengikuti pelatihan singkat TESOL. Lain hal dengan Malaysia,
di Thailand saya diberi Allah waktu lebih panjang selama satu bulan kurang 5
hari.
Kali ini saya
menjadi utusan kampus untuk menjalankan program tahunan mahasiswa ‘’hampir’’
tingkat akhir yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebagai mahasiswa yang terpilih
melalui seleksi saya sangat senang sekali karena bisa melakukan kegiatan
semacam ini di negeri orang. Hal yang muncul di kepala saya adalah keadaan
lingkungan baru, pengalaman baru dan jaringan baru. Bagi saya di mana pun
berada kita harus meninggalkan magnet agar menjadi alat tarik untuk kita bisa
minimal kembali ke daerah tersebut. Kesan yang baik merupakan ‘’goal’’ yang
harus saya capai di samping menyelesaikan program juga.
Sedikit cerita
saya selama di sana. Hal yang paling menarik yang paling awal sekali saya temui
adalah mengenai kuliner masyarakat Thailand. Hampir seluruh menu makanan tidak
pernah terlepas dari benda : Minyak Ikan, Sereh (serai), dan Jeruk Nipis. And
for your information, hampir rata-rata semua rasa makanannya asam dan
mengandung ketiga unsur komposisi di atas. Asam merupakan hal yang paling
dominan di beberapa makanan, seperti Tom Yam, Kuah Sosis, bahkan Mie Instant.
Di periode awal ketibaan saya di sana, awalnya sedikit memiliki masalah dengan
perut sebab tidak terlalu terbiasa dengan hal-hal yang asam dan itu menurut
saya sangat asam. Sebenarnya tidak hanya asam, tapi beberapa rasa lain pun ada.
Tapi yang bikin menarik adalah setiap rasa itu pasti sangat dominan. Sewaktu di
sana saya pernah merasakan masakan bubur
kacang hijau dan you know what? Itu bubur manis banget pake ‘’s’’, bangets.
Sebenarnya kesimpulannya ialah bahwa masyarakat di sana suka dengan hal yang
menurut saya tidak sesuai takaran dalam hal rasa masakan dengan apa yang biasa
saya makan di Indonesia. Hehe (kiri : Mie Instant, kanan : Tomyam)

‘’Indo’’. Kata ini
menyelamatkan kami dari beberapa pristiwa selama keberadaan kami di sana. Salah
satu kejadian lucu selepas menunaikan shalat Isya berjamaah di salah satu
masjid dekat tempat tinggal saya. Karena Thailand memiliki populasi muslim yang
cukup sedikit dibanding Indonesia, sepengamatan saya kaum muslim di sana sangat
erat dan kuat hubungan satu sama lain. Jadi setiap Jum’at malam mereka selalu
berkumpul selepas shalat Isya’ dengan mendengarkan ceramah bersama kemudian
ditutup dengan makan bersama. Di masa ceramah karena kami tidak paham dengan
apa yang dikatakan oleh si penceramah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang
duluan, sebab juga kami masih memiliki agenda lain di malam hari di resort
tempat kami tinggal. Jleppp.. di depan pintu kami dihadang seorang bapak-bapak
dan langsung bercakap dalam bahasa Thai (Siam). Ya Allah cobaan apa ini, dalam
hati bergumam. Tak sepatahkatapun yang kami mengerti dari apa yang bapak itu
utarakan. Singkatnya setelah panjang lebar berbicara, saya nyeletuk ‘’Indo’’
kemudian tiba-tiba bapak tersebut bertransformasi dengan merubah bahasa
percakapan menggunakan bahasa melayu. Huft,,, we’re safe. 555. Ternyata kalimat
panjang yang bapak tadi katakan intinya adalah mengajak kami makan bersama.
Kemudia setelah ceramah usai, kami pun lanjut makan bersama sambil bercerita
panjang lebar. Dari beberapa orang yang kami temui mereka sangat senang dan terbuka
kepada kami karena kami orang Indonesia (it raised my pride of this beloved
country, IndONEsia)
Ada satu lagi nih cerita menarik yang dibuang sayang. Ialah
mengenai nama. Saya tidak tahu kenapa, awalnya saya pikir orang-orang di sana nyeleneh
dalam hal nama. Kenapa tidak? Nama asli dan nama panggilan itu ibarat jauh
panggang dari api. My name is Saman, my nickname is Kim. Ini tejadi beberapa
kali dan sebagian dari mereka memimiliki nama panggilan yang sangat berbeda
dari nama asli yang mereka miliki. Tapi ada juga yang nyambung, Areeda Yeetro,
nickname is Dah. Iya, mereka biasa menyebut nama dengan satu syllable. Oleh
sebab itulah mereka rada sulit mengucapkan nama panggilan kami yang hampir
semuanya lebih dari satu syllable, Alan, Fadli, Yongki dll.








