Rabu, 27 Juli 2016

Cerita Masa KUKERTA





  
Sawaddee khrup, Welcome to Thailand

          Cerita ini berawal dari keinginan saya yang sangat ingin pergi ke luar negeri. Sewaktu kecil saya pernah berujar pada Tuhan, ‘’Ya Allah bawalah hambaMu ini melihat negeri lain walau hanya menginjakkan kaki dalam masa singkat’’. Karena bagi saya walaupun hanya menyentuh tanah Negara orang itu mengandung arti bahwa saya sudah pernah ke luar negeri. Ucap syukur tak pernah lepas saya panjatkan kepada Allah SWT, karena telah mewujudkan impian konyol saya masa kecil yakni ‘’Ingin ke luar negeri’’.
Thailand merupakan Negara kedua yang saya tapak selama beberapa waktu terakhir. 2014 lalu Allah telah membawa saya ke negeri tetangga Malaysia. Itu hanya saya habiskan selama beberapa hari saja karena harus menghadiri konferensi internasional dan mengikuti pelatihan singkat TESOL. Lain hal dengan Malaysia, di Thailand saya diberi Allah waktu lebih panjang selama satu bulan kurang 5 hari.
Kali ini saya menjadi utusan kampus untuk menjalankan program tahunan mahasiswa ‘’hampir’’ tingkat akhir yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebagai mahasiswa yang terpilih melalui seleksi saya sangat senang sekali karena bisa melakukan kegiatan semacam ini di negeri orang. Hal yang muncul di kepala saya adalah keadaan lingkungan baru, pengalaman baru dan jaringan baru. Bagi saya di mana pun berada kita harus meninggalkan magnet agar menjadi alat tarik untuk kita bisa minimal kembali ke daerah tersebut. Kesan yang baik merupakan ‘’goal’’ yang harus saya capai di samping menyelesaikan program juga.
Sedikit cerita saya selama di sana. Hal yang paling menarik yang paling awal sekali saya temui adalah mengenai kuliner masyarakat Thailand. Hampir seluruh menu makanan tidak pernah terlepas dari benda : Minyak Ikan, Sereh (serai), dan Jeruk Nipis. And for your information, hampir rata-rata semua rasa makanannya asam dan mengandung ketiga unsur komposisi di atas. Asam merupakan hal yang paling dominan di beberapa makanan, seperti Tom Yam, Kuah Sosis, bahkan Mie Instant. Di periode awal ketibaan saya di sana, awalnya sedikit memiliki masalah dengan perut sebab tidak terlalu terbiasa dengan hal-hal yang asam dan itu menurut saya sangat asam. Sebenarnya tidak hanya asam, tapi beberapa rasa lain pun ada. Tapi yang bikin menarik adalah setiap rasa itu pasti sangat dominan. Sewaktu di sana saya  pernah merasakan masakan bubur kacang hijau dan you know what? Itu bubur manis banget pake ‘’s’’, bangets. Sebenarnya kesimpulannya ialah bahwa masyarakat di sana suka dengan hal yang menurut saya tidak sesuai takaran dalam hal rasa masakan dengan apa yang biasa saya makan di Indonesia. Hehe (kiri : Mie Instant, kanan : Tomyam)




          ‘’Indo’’. Kata ini menyelamatkan kami dari beberapa pristiwa selama keberadaan kami di sana. Salah satu kejadian lucu selepas menunaikan shalat Isya berjamaah di salah satu masjid dekat tempat tinggal saya. Karena Thailand memiliki populasi muslim yang cukup sedikit dibanding Indonesia, sepengamatan saya kaum muslim di sana sangat erat dan kuat hubungan satu sama lain. Jadi setiap Jum’at malam mereka selalu berkumpul selepas shalat Isya’ dengan mendengarkan ceramah bersama kemudian ditutup dengan makan bersama. Di masa ceramah karena kami tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh si penceramah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang duluan, sebab juga kami masih memiliki agenda lain di malam hari di resort tempat kami tinggal. Jleppp.. di depan pintu kami dihadang seorang bapak-bapak dan langsung bercakap dalam bahasa Thai (Siam). Ya Allah cobaan apa ini, dalam hati bergumam. Tak sepatahkatapun yang kami mengerti dari apa yang bapak itu utarakan. Singkatnya setelah panjang lebar berbicara, saya nyeletuk ‘’Indo’’ kemudian tiba-tiba bapak tersebut bertransformasi dengan merubah bahasa percakapan menggunakan bahasa melayu. Huft,,, we’re safe. 555. Ternyata kalimat panjang yang bapak tadi katakan intinya adalah mengajak kami makan bersama. Kemudia setelah ceramah usai, kami pun lanjut makan bersama sambil bercerita panjang lebar. Dari beberapa orang yang kami temui mereka sangat senang dan terbuka kepada kami karena kami orang Indonesia (it raised my pride of this beloved country, IndONEsia)
          Ada satu lagi nih cerita menarik yang dibuang sayang. Ialah mengenai nama. Saya tidak tahu kenapa, awalnya saya pikir orang-orang di sana nyeleneh dalam hal nama. Kenapa tidak? Nama asli dan nama panggilan itu ibarat jauh panggang dari api. My name is Saman, my nickname is Kim. Ini tejadi beberapa kali dan sebagian dari mereka memimiliki nama panggilan yang sangat berbeda dari nama asli yang mereka miliki. Tapi ada juga yang nyambung, Areeda Yeetro, nickname is Dah. Iya, mereka biasa menyebut nama dengan satu syllable. Oleh sebab itulah mereka rada sulit mengucapkan nama panggilan kami yang hampir semuanya lebih dari satu syllable, Alan, Fadli, Yongki dll.



          Itulah beberapa cerita dari tanah Gajah Putih yang dapat saya bagi buat teman-teman di luar. Harapan saya semoga semakin banyak anak Bengkulu menyusul keluar juga. Keinginan saya semua saya awali dengan bermimpi.  So keep dreaming and try your best to make it come true. Khop khun mak na khrup peun. Sawaddee.